Dalam hadist terkenal yang diriwayatkan oleh Umar ibn al-Khattab r.a. disebutkan bahwa agama terbagi ke dalam tiga pilar. Dalam hadist itu, Jibril menemui Nabi saw. dan para sahabat dalam bentuk laki-laki. Setelah dialog tentang tiga pilar agama dengan Rosulullah saw., Jibril pun pergi. Nabi saw. bersabda kepada Umar, "Ia adalah Jibril,Ia datang untuk mengajarkan agama kepada kalian"
Pilar pertama adalah Islam. Ini merupakan aspek praktis yang meliputi ibadah,muamalah,dan berbagai bentuk ubudiyah.pelakunya adalah seluruh anggota badan.Para ulama menyebutnya dengan istilah syariat.Ilmu tentang ini khusus dipelajari dan dikembangkan oleh para fukaha.
Pilar kedua adalah iman.Ini merupakan sisi keyakinan yang bertempat dalam hati.Pilar kedua ini meliputi iman kepada Allah,malaikat,kitab suci,para rasul,hari akhir,serta qadha dan qadar.Ilmu tentang ini secara khusus dipelajari dan dikembangkan oleh para ulama tauhid.
Pilar ketiga adalah ihsan.Ini merupakan sisi ruhani yang terdapat dalam hati.Ihsan berarti "Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya.Jika kau tidak melihat-Nya,sesungguhnya Allah melihatmu".Para ulama menyebut pilar ketiga ini dengan istilah hakikat.
Ketiga pilar itu saling berhubungan dan tak dapat dipisah-pisahkan.Untuk memperjelas hubungan antara syariat dan hakikat,contoh jelasnya terdapat dalam shalat.Berbagai gerakan dan aktivitas lahiriah yang dilakukan seraya memperhatikan rukun dan syarat shalat serta berbagai hal lain yang dijelaskan oleh para fukara mencerminkan sisi syariat.Bagian ini merupakan jasmaninya shalat.Sementara,kehadiran Allah dalam shalat mencerminkan sisi hakikat.Ini merupakan ruh shalat.
Jadi,kita melihat ada keterpautan yang sangat kuat antara syariat dan hakikat,seperti keterpautan antara ruh dan jasad.Mukmin yang sempurna adalah yang menggabungkan antara syariat dan hakikat.
Kalangan yang melihat hakikat tanpa disertai syariat dapat digolongkan ke dalam kelompok Jabbariyah,yang beranggapan bahwa manusia tidak memiliki pilihan sedikit pun dalam segala urusan.Karenanya,mereka juga menghapus hikmah yang terkandung dalam hukum-hukum syariat.
Maka inilah yang dimaksud oleh Syekh Abdul Qadir al-jailani rahimahullah ketika berkata."Setiap hakikat yang tidak disertai syariat adalah kufur.Terbanglah menuju Tuhan dengan sayap Al-Quran dan Sunnah.Masuklah sementara tanganmu berpegang pada tangan Rasulullah saw."
Ia tidak menyetujui pandangan yang menyatakan gugurnya kewajiban syariat dalam keadaan tertentu.Dalam keadaan tersebut seorang salik dibolehkan meninggalkan kewajiban syariat.Syekh Abdul Qadir menentang pandangan semacam itu.Ia mengatakan,"Meninggalkan ibadah yang wajib adalah perbuatan zindik (kufur).Mengerjakan segala yang dilarang adalah maksiat.Kewajiban tidak boleh ditinggalkan oleh siapa pun."
Orang yang mengatakan bahwa maksud agama adalah hakikat semata,berarti telah mencampakkan hukum syariat.Mereka telah sesat,menyimpang,dan zindik.Dalam ungkapan Ibnu Athaillah,"mereka telah mencampakan diri dalam samudera kekufuran."
Orang yang Banyak Bicara Tentang Tauhid Tetapi Tak Memedulikan Syariat
on Jumat, 24 Mei 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar